Koster Umumkan Pungutan Wisman 2025 Capai Rp369 Miliar, Pariwisata Bali Kian Berkontribusi Nyata

Denpasar, Bali (initogel)— Di tengah arus wisatawan yang tak pernah benar-benar surut, Bali mencatat satu capaian penting. Wayan Koster mengumumkan bahwa pungutan wisatawan mancanegara (wisman) sepanjang 2025 mencapai Rp369 miliar. Angka itu bukan sekadar statistik fiskal, melainkan potret bagaimana pariwisata mulai memberi kontribusi langsung bagi keberlanjutan Pulau Dewata.
Bagi pemerintah daerah, capaian tersebut menjadi penanda bahwa kebijakan pungutan wisman mulai menemukan pijakannya—diterima wisatawan, berjalan administratif, dan memberi ruang pembiayaan bagi pelestarian budaya serta lingkungan.
Dari Bandara ke Desa Adat
Pungutan wisman dikenakan kepada setiap wisatawan asing yang masuk ke Bali. Nilainya relatif kecil bagi pelancong, namun dampaknya signifikan ketika dikumpulkan secara kolektif. Dari bandara hingga kawasan wisata, dari hotel hingga desa adat, kontribusi itu kini terasa nyata.
“Dana ini dikembalikan untuk Bali,” ujar Koster dalam pernyataannya. “Untuk menjaga budaya, alam, dan kualitas pariwisata agar tetap lestari.”
Bagi warga desa adat, pungutan tersebut menjadi harapan baru. Perbaikan sarana upacara, penataan lingkungan, hingga pengelolaan sampah mulai mendapatkan dukungan pembiayaan yang lebih pasti.
Pariwisata yang Membayar Balik
Selama bertahun-tahun, pariwisata Bali tumbuh pesat—namun beban lingkungan dan sosial sering kali ditanggung masyarakat lokal. Pungutan wisman dirancang untuk menjembatani kesenjangan itu: wisata menikmati, wisata ikut menjaga.
Pelaku pariwisata pun melihat kebijakan ini sebagai langkah menuju pariwisata berkualitas. “Wisatawan sekarang juga peduli,” kata seorang pengelola homestay di Ubud. “Selama transparan dan jelas manfaatnya, mereka tidak keberatan.”
Kepercayaan Publik dan Transparansi
Angka Rp369 miliar menjadi sorotan karena menunjukkan tingkat kepatuhan dan penerimaan yang relatif baik. Pemerintah daerah menegaskan komitmen transparansi dalam pengelolaan dana, agar kepercayaan publik—baik warga lokal maupun wisatawan—tetap terjaga.
Penggunaan dana difokuskan pada program prioritas: pelestarian budaya, penguatan desa adat, perlindungan lingkungan, serta peningkatan kualitas layanan pariwisata. Dengan demikian, pungutan tidak berhenti sebagai penerimaan, tetapi berlanjut sebagai investasi sosial.
Dampak Nyata di Lapangan
Di sejumlah wilayah, dampak mulai terlihat. Kegiatan kebersihan pantai lebih rutin, fasilitas umum diperbaiki, dan program edukasi lingkungan diperluas. Bagi pekerja pariwisata, kualitas destinasi yang terjaga berarti keberlanjutan mata pencaharian.
“Kalau Bali bersih dan tertata, tamu senang, kami juga senang,” ujar seorang pemandu wisata.
Menjaga Keseimbangan
Koster menekankan bahwa pungutan wisman bukan untuk membatasi kunjungan, melainkan menjaga keseimbangan. Bali tetap terbuka, namun dengan tata kelola yang lebih bertanggung jawab. Di tengah tantangan overtourism, kebijakan ini dipandang sebagai instrumen penting.
“Pariwisata harus selaras dengan daya dukung,” tegasnya. “Bukan sekadar banyak, tapi berkualitas.”
Menuju Pariwisata Berkelanjutan
Capaian Rp369 miliar sepanjang 2025 memberi sinyal bahwa arah kebijakan mulai tepat. Tantangan ke depan adalah konsistensi—memastikan pengelolaan dana tepat sasaran, pengawasan kuat, dan manfaat dirasakan merata.
Di Bali, pariwisata bukan hanya industri. Ia adalah denyut hidup masyarakat. Dan melalui pungutan wisman, pulau ini sedang belajar satu hal penting: bertumbuh tanpa kehilangan diri.